TIMES SINGKAWANG, SINGKAWANG – Pemerintah Kota Singkawang tengah menyiapkan perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh 2026 secara spektakuler dan inklusif. Momentum tahun ini dinilai menjadi simbol kuat toleransi, mengingat pelaksanaannya bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, mengungkapkan bahwa perpaduan dua momentum besar ini memberikan warna istimewa bagi Kota Singkawang. Selain ritual adat budaya, suasana kota juga akan diramaikan dengan kehadiran Pasar Juadah yang merupakan tradisi khas Ramadhan.
“Saya katakan istimewa karena tahun ini berbarengan dengan Bulan Suci Ramadhan. Akan ada Pasar Juadah yang harus kita kemas sedemikian rupa agar semua masyarakat bisa menikmati suasana kebersamaan,” ujar Tjhai Chui Mie, Kamis (15/1/2026).
Tahun Baru Imlek 2577 akan jatuh pada 17 Februari 2026, yang kemudian diikuti oleh perayaan Cap Go Meh. Di saat yang bersamaan, umat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Fenomena ini diharapkan mampu mempererat hubungan lintas etnis dan agama di kota yang dikenal dengan tingkat toleransinya yang tinggi tersebut.
Tjhai Chui Mie meminta Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) yang baru dilantik untuk bekerja profesional dalam mengonsep acara agar memiliki daya tarik internasional.
“Yang paling penting, event ini harus dapat dipresentasikan dengan baik ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif agar Singkawang semakin dikenal sebagai destinasi unggulan berbasis budaya,” tegasnya.
Selain teknis acara, Wali Kota juga memberikan atensi khusus pada pelayanan sektor pariwisata, terutama stabilitas tarif hotel agar tidak melonjak secara tidak wajar. “Harga boleh naik, kita tidak melarang, tetapi harus dalam batas kewajaran,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Disparpora Kota Singkawang, Mokhlis, menyatakan segera melakukan koordinasi dengan panitia pelaksana, instansi terkait, serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Langkah ini diambil untuk memastikan kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
“Kalau harga terlalu tinggi, tentu akan mempengaruhi minat wisatawan untuk menginap di Singkawang. Ini yang ingin kita jaga bersama,” tutur Mokhlis.
Pemerintah Kota optimistis bahwa sinergi budaya dan religi pada tahun 2026 ini tidak hanya memperkokoh persaudaraan antarwarga, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata yang berkelanjutan di Singkawang. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Harmoni di Singkawang: Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026 Bersamaan dengan Ramadan
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Deasy Mayasari |